Keanekaragaman ikan karang di perairan sekitar area tambang PT Nusa Karya Arindo (PT NKA), Moronopo, Kecamatan Maba, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara, mencapai indeks 3,13 pada pemantauan Agustus 2026.
Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak pemantauan flora dan fauna dimulai pada Juli 2024.
Selain ikan karang, tutupan padang lamun juga menunjukkan peningkatan, dari 19,03 persen pada periode awal pemantauan menjadi 30,39 persen pada Agustus 2026.
Temuan itu tercantum dalam Laporan Final Monitoring Flora dan Fauna di Site PT NKA Semester I 2026 yang dilaksanakan bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Khairun.
Pemantauan dipimpin Dr. Nebuchadnezzar Akbar, S.Pi., M.Si., sebagai bagian dari program berkala yang dilaksanakan dua kali dalam setahun.
Laporan tersebut menyebutkan, secara umum komponen keanekaragaman hayati yang dipantau berada dalam kondisi stabil hingga membaik dibandingkan data dasar atau baseline 2024.
Pengamatan mencakup sembilan komponen, mulai dari parameter lingkungan, lamun, makroalga, terumbu karang, ikan karang, vegetasi darat dan mangrove, burung serta fauna lainnya, plankton, hingga bentos.
Pada komponen terumbu karang, tutupan karang hidup di stasiun M4 tercatat sekitar 70 persen dan M5 sekitar 74 persen. Sementara itu, tutupan di M1 sekitar 45 persen dan M3 sekitar 19 persen.
Stasiun M3 menjadi salah satu lokasi yang memerlukan perhatian dalam pengelolaan lingkungan.
Pada periode sebelumnya, lokasi tersebut tercatat mengalami kekeruhan. Setelah pemasangan dan perluasan pelindung sedimen atau silt protector di muara Sungai Moronopo, pemantauan Agustus 2026 menunjukkan perbaikan kecerahan air dan kembali ditemukannya ikan di kawasan tersebut.
Meski demikian, laporan merekomendasikan penguatan pengendalian sedimen, khususnya di area yang masih membutuhkan penanganan.
Perkembangan juga terlihat pada vegetasi darat. Kawasan Selatan Moronopo mencatat indeks keanekaragaman 4,35 dengan 88 spesies, sedangkan area reklamasi Front Shaum memiliki indeks 3,66 dengan 51 spesies.
Pada mangrove rehabilitasi, tinggi rata-rata tanaman bertambah sekitar 65,1 sentimeter atau 77,3 persen dibandingkan kondisi Juli 2024. Pertumbuhan tersebut menunjukkan perkembangan vegetasi mangrove yang ditanam di kawasan rehabilitasi.
Sementara itu, pengamatan burung mencatat 15 spesies dengan total 93 individu. Jumlah individu mengalami penurunan 13,9 persen yang dalam laporan dikaitkan dengan faktor musiman, sedangkan komposisi spesies relatif tetap.
Pada mangrove rehabilitasi, tinggi rata-rata tanaman bertambah sekitar 65,1 sentimeter atau 77,3 persen dibandingkan kondisi Juli 2024. Pertumbuhan tersebut menunjukkan perkembangan vegetasi mangrove yang ditanam di kawasan rehabilitasi.
Sementara itu, pengamatan burung mencatat 15 spesies dengan total 93 individu. Jumlah individu mengalami penurunan 13,9 persen yang dalam laporan dikaitkan dengan faktor musiman, sedangkan komposisi spesies relatif tetap.
Catat Spesies Bernilai Konservasi
Pemantauan juga menemukan sejumlah biota yang memiliki nilai konservasi, di antaranya kima (Tridacna spp.), ikan badut, bambu laut (Isis hippuris), dan ikan pipa di kawasan perairan.
Di Pulau Mou, tim juga mencatat keberadaan Mandar Halmahera (Habroptila wallacii), burung endemik Halmahera.
Selain itu, ditemukan burung migran trinil pantai (Actitis hypoleucos) yang menunjukkan fungsi kawasan pesisir sebagai tempat singgah satwa migran.
Data tersebut menjadi bagian dari evaluasi keanekaragaman hayati di sekitar wilayah operasional PT NKA. Pemantauan berkala dilakukan pada titik-titik pengamatan yang mengacu pada koordinat dasar 2024 agar perubahan kondisi lingkungan dapat dibandingkan dari waktu ke waktu.
Hasil evaluasi selanjutnya digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan langkah pengelolaan lingkungan pada periode berikutnya.
Rekomendasi Pengelolaan Lingkungan
Untuk tindak lanjut, laporan monitoring merekomendasikan penambahan silt protector dan pembangunan jeti di muara Sungai Moronopo, pengendalian sedimen di stasiun bentos III, serta pemantauan kandungan logam berat seperti timbal (Pb), besi (Fe), dan mangan (Mn) pada air maupun sedimen.
Rekomendasi lainnya meliputi penyisipan tanaman mangrove di kawasan mangrove alami, transplantasi lamun di Pulau Mou, serta pengembangan Pulau Mou sebagai zona keanekaragaman hayati atau Biodiversity Zone.
Langkah-langkah tersebut diharapkan menjadi bagian dari pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, dengan perkembangan setiap komponen flora dan fauna terus dievaluasi melalui pemantauan pada periode selanjutnya. (*)




